Cerpen ini aku buat di tahun 2012, karena nggak lolos lomba jadi iseng share di sini aja, ya :)
KELABU
karya : Putri Eka Pertiwi
Pagi itu aku kembali
terbangun, telingaku yang telah terbiasa dengan suara kumandang adzan
subuh memang selalu cepat bereaksi. Bukan untuk beribadah sih, tapi
untuk, emm, menunaikan kebiasaanku suka buang air kecil subuh-subuh.
Dengan
bergegas aku turun dari pulau empukku, dan melangkah kecil ke kamar
mandi. Langkahku terhenti, mendengar sebuah gumaman dari ruangan yang
berada tepat di sebelah kamarku. Dari dalam, aku mendengar Ummi tengah
memanjatkan do’a, kuintip sejenak, tubuhnya yang tak lagi muda sedang
menunduk dengan beralaskan sajadah merah marun kesayangannya, seraya
menengadahkan kedua tangannya yang terlihat mulai bergurat. Seketika
bibirku bergerak, menyunggingkan senyuman kecil, tak lama, lalu kembali
berlalu.
***
Ibu.
Sebuah
kata yang begitu menggetarkan. Tercetus haru, terdengar rindu. Dan
Ibuku- adalah sebutan yang terindah bila terlantun dari bibir-bibir
manusia. Kata yang penuh dengan cinta, kasih sayang, dan kerinduan yang
secara tulus terpancar. Sebagai pelindung, penuntun, serta cahaya bagi
siapapun yang membutuhkannya.
Kau segalanya, penegas lukaku di kala lara, merengkuhku dengan penuh cinta, dan kau buang sakitku, oleh belaian kasihmu.
***
"Ummi,
malam ini kan malam tahun baru, aku mau ikut main sama teman-temanku.
Minta uang, dong.” ucapku sambil mengolah menu sarapan dalam mulut,
tanpa melihat ke arah Umi yang sedang susah payah mengangkat seember
pakaian kotor dari kamarku.
Setelah meletakkan ember yang dibawanya, Ummi baru bereaksi.
“Uhuk. uhuk… Ehm. Mau main kemana? Bakar-bakar di depan rumah saja, kan?”
Aku
mendengus, “Nggak lah, Mi. Aku mau jalan-jalan keluar. Selama ini kan
aku belum pernah malam tahun baruan di luar. Boleh ya, Mi?”
Ummi
masih belum menjawab, ia kembali sibuk mengurusi batuknya yang tak
kunjung sembuh. Memegangi dadanya yang peyot tertutup untaian kain yang
disebut jilbab. Uhuk-uhuk! Eerhhmm. Begitu terdengar.
“Mii, boleh ya? Udah sih boleh aja. Lagian aku juga ngapain di rumah? Ngurusin Umi mulu, bosan tau,”
Kulihat
mata Ummi yang telah mulai memudar warnanya memandangku lemah.
Sepertinya kaget dengan kata-kataku barusan. Aku masih menunggu jawaban
Umi sambil mengambil lagi sepotong kue yang Umi siapkan untukku tiap
pagi.
“Disini saja lah, apa bedanya sih tahun baru di luar
sama di rumah? Sama-sama tahun baru, kan? Lagipula kamu masih kecil,
masih 14 tahun. KTP saja belum punya. Nanti kalau terjadi apa-apa sama
kamu, bagaimana?”
Tatapanku berubah sinis mendengar
jawaban Ummi, lidahku berdecak kesal. Apaan sih, aku sudah besar! Aku
sudah bisa mengatur diriku sendiri. Selama ini sudah cukup perhatian
berlebih yang Ummi berikan padaku. Ditinggal Abi sejak kecil memang
membuatku menjadi anak yang manja, dan sangat haus kasih sayang Ummi.
Seseorang yang kupunya satu-satunya.
“Ummi juga lagi gak enak badan, Nduk. Uhuk! Kamu tho yo, yo…”
Aku
berdiri, menghentakkan kakiku kesal. Lalu membentak Ummi keras. “Umi
emang rese banget yah? Raissa sudah besar, Mi! Raissa juga butuh
hiburan! Memang kerjaan Raissa cuma jagain Umi aja, apa? Raissa punya
banyak teman!”
Ummi terjatuh, kakinya yang renta
sepertinya terkejut dengan perkataanku dan tak tahan lagi menopang. Umi
duduk di kursi makan, aku masih menatapnya kesal.
“Pokoknya
aku mau ikut. Gak mungkin kan aku bilang sama mereka, alasanku gak ikut
gara-gara gak boleh sama Ummi? Malu-maluin aja.”
Ummi
memegangi dadanya, wajahnya terlihat sangat letih. Aku memutuskan
berhenti bicara, melihat keadaan Umi seperti itu. Lantas berjalan cepat
masuk ke kamar. Oh, ada yang terlupa.
“Aku minta uang,”
Umi menatapku lemah, cukup lama.
“Minta uang, Ummi… Ummi tega lihat anaknya nanti diejek sama teman-temannya gara-gara ikut jalan tapi gak punya uang?”
Ummi
menghela napasnya panjang, lalu merogoh kantung dasternya yang using
dan berwarna muda, maksudnya memudar. Mengeluarkan sebuah kain bertali
dari sana.
“Sini, buat aku semua, ya?”
Mata
Ummi terbelalak, aku tersenyum senang. “Jangan semua, nduk. Itu untuk
makan kita sampai nanti malam, lho. Hari ini Ummi belum nyuci, jadi
belum dapat uang.”
“Yaudah, kan belum, berarti bakal? Iya kan? Ummi berangkat kerja dong, biar bisa dapat uang.”
“Umi lagi nggak enak badan, nduk… mungkin nanti agak siangan.”
Aku menjulingkan mata, belagak.
“Ya kalau gitu gimana bisa dapat uang? Udah siang mana ada yang mau
nitip cucian sih, Mi? haduh, lagian Ummi salah sendiri, kenapa harus
jadi tukang cuci.”
Uhuk… Uhuk! Batuk Ummi terdengar semakin parau, aku berjingkat, dan memutuskan untuk masuk ke kamar.
“Raissa nanti siang berangkat ya, Mi? kalau Umi pulang kerja Raissa udah
gak ada, berarti Raissa
udah pergi.”
Kulihat
tubuh Umi tiba-tiba bergetar hebat, seperti bergidik, hampir terlihat
seperti kejang, namun hanya sebentar. Aku meringis, kenapa lagi dia?
Lantas masuk ke kamar untuk tidur lagi.
***
Yihaa!
Malam tahun baru.
Aku
yang sedang asyik bersenang-senang dengan teman-temanku ,tersenyum
senang melihat percikan-percikan kembang api di atas langit malam
berteriak kencang, beberapa ada yang meniup terompet tanda sambutan
datangnya tahun baru. Aku yang baru sekali merasakan keramaian seperti
ini hanya bisa ikut tertawa, memeriahkan pesta kembang api di puncak
akhir tahun 2011.
Lama kelamaan percikan kembang api pun
berkurang, hanya dari beberapa tempat saja yang masih berebutan
menghiasi indahnya malam ini. Namun di tempatku sekarang, kembang apinya
sudah habis, sepertinya.
Aku melihat jam digital yang bertengger
di pergelangan tanganku, pukul 01.10. Wah, sudah dini hari ya? Pertama
kalinya aku seperti ini. Haha. Aku senang sekali. Tak lama, aku
merasakan seseorang merangkulku dari belakang. Aku berpikir dia salah
satu temanku yang pergi bersamaku malam ini. Ternyata…
“Fauzi?” aku terperangah. Yang kusebut Fauzi tadi justru tersenyum.
“Hai, Sa. Tumben lo mau ikutan acara begini? Haha.” Ucapnya, sambil masih merangkulku. Aku bergeming.
“Emm,
aku harus pulang.” Ucapku, mencoba melepaskan rangkulan Fauzi dari
tubuhku yang terbuka. Ya, aku dipaksa teman-temanku memakai pakaian
seperti itu. Sungguh, aku tidak pernah punya pakaian seperti ini.
“Gimana kalo lo ikut kita dulu?”
Aku menatap mereka sangsi.
“Kita minum-minum sebentar, pesta dikit lah… 2012, coy!”
Belum menjawab, aku hanya tersenyum, mengingat Umi yang pasti sudah mengkhawatirkan aku di rumah.
“Sebentar saja, masa udah sejauh ini, lo masih takut?”
Tanpa
menunggu jawabanku, mereka menyeretku masuk ke sebuah warung kecil di
pinggir jalan. Tak jauh dari tempat kami melihat kembang api tadi. Aku
ikut duduk. Beberapa diantara mereka menghisap rokok, dan
menghembuskannya. Nikmat sekali kelihatannya, pikirku.
“Mau coba?” tawar seorang temanku seraya membuka bungkus rokoknya. Aku
menggeleng pelan. Ia menyundutkan ujung rokoknya ke rokok yang baru saja
dikeluarkan.
“Hisap deh, nikmat.” Perintahnya. Dengan enggan, namun penasaran, aku mulai menghisap. Ah, sesak.
“Uhuk… uhuk!”
Terbatuk, aku jadi ingat Umi di rumah.
“Pertamanya emang gitu, lama-lama juga nggak.” Ujar temanku lagi.
“Mau coba yang lebih ekstrim?”
Aku bertanya, “Apa?”
Temanku, Daina memberikanku segelas air putih. Oh, aku pikir apa yang ekstrim.
“Minum deh,”
Dengan percaya diri, aku meminum air putih yang tadi diberikan.
“Hoek! Ih, apaan nih, Dai? Bau! Yeak,” protesku. “Kayak bensin.”
Daina
menggeleng, gemas, lalu menyodorkan kembali gelas berisi ‘air putih
berbau bensin’ itu padaku. Aku berusaha menolak, namun sepertinya tak
bisa mengelak.
***
Duniaku berputar. Entah
dimana sekarang aku berada saat ini, sungguh, aku sama sekali tak bisa
berpikir, semua terasa melayang-layang. Seingatku tadi aku bersama
teman-temanku, dan… ah, iya. Mereka menurunkanku di pinggir jalan.
Sial.
Pandanganku kabur-kaburan. Sedikit-sedikit aku melihat daerah
sekitarku. Ada warung Mbok Sumi. Ini sudah dekat rumah! Hanya tinggal
berjalan sedikit lagi saja, lumayan sih.
“Heaah…” desahku.
Aroma napas yang kukeluarkan sangatlah tidak enak. Aku mual. Sekarang,
semua yang kulihat hanyalah bayangan-bayangan kabur dan tidak jelas.
Masih
berjalan tergopoh, aku bersyukur masih dapat mengingat jelas arah
kerumahku. Ah, tapi pandanganku buyar semua. Tiba-tiba, aku melihat
sebuah cahaya yang kuat bersinar dan menembus retinaku. Entah itu cahaya
apa, namun telingaku yang masih berfungsi baik mendengar sebuah suara
klakson mobil. Dan, teriakan.
BRUK…
Aku merasakan sakit yang luar biasa menimpa tubuhku. Bagaimana tidak?
Tubuhku didorong sesuatu dengan tenaga yang sangat kuat sehingga aku
terpental seperti ini. Persetan! Siapa yang mendorongku? Hah? Teriakku
dalam hati, lalu membuka mataku lebar.
Kali
ini aku dapat melihat dengan jelas! Yah, sangat jelas bahkan. Seseorang
wanita renta sedang tiduran di tengah jalan, didampingi sebuah truk
besar disampingnya, yang sepertinya sedang berusaha untuk kembali
menancap gas. Ah, sepertinya dia tidak sedang tiduran, pelipisnya
mengucurkan darah yang sangat banyak, mengalir deras sekali. Aku
mendekatkan wajahku dengan tubuh renta itu, pandanganku kini mulai
jelas, jelas, dan…
“UMMI…!”
***
“Ummi mengkhawatirkanmu, Nduk...”
Ucapnya
parau di sela isakkanku. Aku mencoba berteriak, ingin sekali berteriak!
Namun, saat itu aku benar-benar lupa cara berteriak. Aku menangis,
parah.
“Tuntun Ummi dua kalimat syahadat, Nduk…”
Napasku yang sesak berusaha membantu Ummi untuk yang terakhir kalinya,
“Assyhadu allaa illaha’ilallahu… wa’assyhadu annaa Muhammadarrasulullah…”
***
Sehelai
jiwa yang suci kini telah pergi. Tak ada lagi tawa bersama, tak ada
lagi air mata cinta, tak ada lagi asa yang selalu menggetarkan jiwa,
menyemangati hari-hariku dengan halus sentuhannya, keindahan lekuk
bibirnya, siluet tubuhnya yang sudah renta terbalut dengan kain di
sekujur tubuhnya. Sekarang aku baru menyadari, inilah yang dapat kusebut
sebagai pilu.
***
Aku tersenyum, memandangi tempat peristirahatan terakhir Ummi dengan
damai. Terlihat bayangan wajahnya yang sendu di balik nisan. Aku
merindukanmu, Ummi...