Senin, 09 September 2013

Kuliah Olimpisme Hari Ke-2


Assalamualaikum wr. wb.

            Malam ini saya akan menceritakan sedikit tentang materi yang saya dapatkan pada saat perkuliahan Olimpisme hari Sabtu, 7 September 2013. Hari itu adalah hari kedua kuliah Olimpisme. Materi yang diberikan Omjay hari itu tentang “Sejarah dan Filosofi Olimpiade Kuno”

            Sebelum memulai materi kedua itu, kami disuguhkan dengan video yang berjudul “8 Wonder of Vietnam” , lalu Omjay memberikan kesimpulan dari materi yang diberikannya minggu lalu.

   

         Setelah itu Omjay menjelaskan tentang Sejarah dan Filosofi Olimpiade Kuno. Olimpisme lahir sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu pada tahun 129 masehi. Sejarah Olimpiade kuno dimulai dari ditemukannya prasasti peninggalan yang ditemukan di kota olympia dari tentara Jerman pada akhir abad 19. Di dalam prasasti tersebut diceritakan sebuah festival olahraga yang sekaligus dijadikan sebagai ritual keagamaan untuk menyembah DewaZeus. Festival tersebut diadakan 4 tahun sekali dan berlangsung selama 5 hari. Semua pesertanya bertelanjang bulat demi menjaga kesucian, dan disana tidak ada kaum perempuan yang diikutsertakan. Yang membuat saya takjub adalah, pada saat festival tersebut berlangsung segala peperangan  atau pun permusuhan yang terjadi harus dihentikan. Itu merupakan suatu bukti bahwa Olimpiade ini menciptakan persahabatan diantara semua peserta. Namun, pada tahun 393 AD, olimpiade dihentikan oleh kerajaan Kristen. Lalu pada tahun 426 AD, Raja Theodore II menghancurkan kota Olimpia.

            Olahraga yang dilombakan antara lain adalah Lari 192 M, 384 M dan 1344 M, Gulat, lompat jauh,lempar lembing, lari 192 M, lempar cakram dan lempar martil, Tinju, Balap kreta kuda, Pancration (gabungan tinju dan gulat), Balap kuda, dan Lomba lari membawa senjata. Pemenang lomba tersebut akan diberikan mahkota dari daun zaitun dan diberi gelar pahlawan. Pemenang itu akan sangat dihormati oleh suku-suku lain sehingga ajang olimpiade ini menjadi ajang yang sangat popular pada saat itu.        



            Filosofi yang terkandung dalam Olimpiade yang pertama adalah menjaga kesucian diri dalam bertanding. Itu digambarkan dengan peserta yang bertelanjang bulat dan tidak adanya kaum wanita yang ikut serta dalam acara tersebut. Kekuatan, kebugaran, keterampilan dan mental yang sehat juga diutamakan tentunya, lalu semangat untuk berprestasi, kejujuran dalam pertandingan, saling menghargai satu sama lain, terciptanya perdamaian, terjalinnya kompromi dan kesepakatan antar suku, juga penghargaan tertinggi bagi yang berprestasi, peningkatan ekonomi dan suka cita.

berikut ini adalah kutipan dari beberapa filusuf dunia yang berpendapat tentang filosofi olahraga dalam olimpiade kuno:

             “Badan yang kuat dan sehat merupakan penjaga yang baik bagi manusia”-Socrates

           ”Olahraga bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai alat untuk menjadikan manusia menjadi orang yang sehat” -Plato

            ”Kesehatan pikiran selalu tergantung dari kesehatan badan, maka olahraga hendaknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan.” -Aristoles

            Pada akhir perkuliahan, Omjay memutarkan sebuah video yang sangat menginspirasi. Di dalam video itu diceritakan seorang pelatih yang memberikan motivasi untuk anak didiknya yang merasa bahwa tim mereka akan kalah. Pelatih tersebut menyuruh anak didiknya itu untuk berjalan di lapangan dengan mata tertutup dan beban dari temannya.pelatih itu menyuruh anak didiknya untuk terus berjalan tanpa melihat sudah sejauh apa ia berjalan, tujuannya adalah agar anak didiknya tidak cepat puas atas apa yang telah dia lakukan dan terus berusaha sekuat tenaga yang ia punya. Setelah tenaganya benar-benar habis, barulah ia menyadari kalau dia sudah ada di seberang lapangan dan ternyata tadi dia sudah merangkak  sejauh itu. Kesimpulan yang saya ambil dari video tersebut adalah, kita harus berusaha sekuat tenaga yang kita bisa, jangancepat merasa puas dan jangan sekali-kali menganggap diri kita akan kalah. Karena sebenarnya dalam diri kita tersimpan sebuah kekuatan yang sangat luar biasa apabila kita mempercayainya.


            Setelah itu kami semua diminta untuk berdiri dan menyanyikan lagu “Bangun Pemudi Pemuda”

BANGUN PEMUDI PEMUDA
Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmulah
Menjadi tanggungan mu terhadap Nusa
Menjadi tanggungan mu terhadap Nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Bertingkah laku halus hai putra negeri
Bertingkah laku halus hai putra negeri

            Demikianlah resume dari materi perkuliahan yang saya dapatkan hari Sabtu kemarin, mohon maaf apabila banyak kekurangan.
Wassalamualaikum wr. wb.

Minggu, 08 September 2013

Kelabu (cerpen)

Cerpen ini aku buat di tahun 2012, karena nggak lolos lomba jadi iseng share di sini aja, ya :)



KELABU
karya : Putri Eka Pertiwi

          Pagi itu aku kembali terbangun, telingaku yang telah terbiasa dengan suara kumandang adzan subuh memang selalu cepat bereaksi. Bukan untuk beribadah sih, tapi untuk, emm, menunaikan kebiasaanku suka buang air kecil subuh-subuh.
Dengan bergegas aku turun dari pulau empukku, dan melangkah kecil ke kamar mandi. Langkahku terhenti, mendengar sebuah gumaman dari ruangan yang berada tepat di sebelah kamarku. Dari dalam, aku mendengar Ummi tengah memanjatkan do’a, kuintip sejenak, tubuhnya yang tak lagi muda sedang menunduk dengan beralaskan sajadah merah marun kesayangannya, seraya menengadahkan kedua tangannya yang terlihat mulai bergurat. Seketika bibirku bergerak, menyunggingkan senyuman kecil, tak lama, lalu kembali berlalu.

***
Ibu.
Sebuah kata yang begitu menggetarkan. Tercetus haru, terdengar rindu. Dan Ibuku- adalah sebutan yang terindah bila terlantun dari bibir-bibir manusia. Kata yang penuh dengan cinta, kasih sayang, dan kerinduan yang secara tulus terpancar. Sebagai pelindung, penuntun, serta cahaya bagi siapapun yang membutuhkannya.
Kau segalanya, penegas lukaku di kala lara, merengkuhku dengan penuh cinta, dan kau buang sakitku, oleh belaian kasihmu.

***

"Ummi, malam ini kan malam tahun baru, aku mau ikut main sama teman-temanku. Minta uang, dong.” ucapku sambil mengolah menu sarapan dalam mulut, tanpa melihat ke arah Umi yang sedang susah payah mengangkat seember pakaian kotor dari kamarku.

Setelah meletakkan ember yang dibawanya, Ummi baru bereaksi.
“Uhuk. uhuk… Ehm. Mau main kemana? Bakar-bakar di depan rumah saja, kan?”

Aku mendengus, “Nggak lah, Mi. Aku mau jalan-jalan keluar. Selama ini kan aku belum pernah malam tahun baruan di luar. Boleh ya, Mi?”

Ummi masih belum menjawab, ia kembali sibuk mengurusi batuknya yang tak kunjung sembuh. Memegangi dadanya yang peyot tertutup untaian kain yang disebut jilbab. Uhuk-uhuk! Eerhhmm. Begitu terdengar.

“Mii, boleh ya? Udah sih boleh aja. Lagian aku juga ngapain di rumah? Ngurusin Umi mulu, bosan tau,”

Kulihat mata Ummi yang telah mulai memudar warnanya memandangku lemah. Sepertinya kaget dengan kata-kataku barusan. Aku masih menunggu jawaban Umi sambil mengambil lagi sepotong kue yang Umi siapkan untukku tiap pagi.

“Disini saja lah, apa bedanya sih tahun baru di luar sama di rumah? Sama-sama tahun baru, kan? Lagipula kamu masih kecil, masih 14 tahun. KTP saja belum punya. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu, bagaimana?”

Tatapanku berubah sinis mendengar jawaban Ummi, lidahku berdecak kesal. Apaan sih, aku sudah besar! Aku sudah bisa mengatur diriku sendiri. Selama ini sudah cukup perhatian berlebih yang Ummi berikan padaku. Ditinggal Abi sejak kecil memang membuatku menjadi anak yang manja, dan sangat haus kasih sayang Ummi. Seseorang yang kupunya satu-satunya.

“Ummi juga lagi gak enak badan, Nduk. Uhuk! Kamu tho yo, yo…”

Aku berdiri, menghentakkan kakiku kesal. Lalu membentak Ummi keras. “Umi emang rese banget yah? Raissa sudah besar, Mi! Raissa juga butuh hiburan! Memang kerjaan Raissa cuma jagain Umi aja, apa? Raissa punya banyak teman!”

Ummi terjatuh, kakinya yang renta sepertinya terkejut dengan perkataanku dan tak tahan lagi menopang. Umi duduk di kursi makan, aku masih menatapnya kesal.

“Pokoknya aku mau ikut. Gak mungkin kan aku bilang sama mereka, alasanku gak ikut gara-gara gak boleh sama Ummi? Malu-maluin aja.”

Ummi memegangi dadanya, wajahnya terlihat sangat letih. Aku memutuskan berhenti bicara, melihat keadaan Umi seperti itu. Lantas berjalan cepat masuk ke kamar. Oh, ada yang terlupa.

“Aku minta uang,”

Umi menatapku lemah, cukup lama.

“Minta uang, Ummi… Ummi tega lihat anaknya nanti diejek sama teman-temannya gara-gara ikut jalan tapi gak punya uang?”

Ummi menghela napasnya panjang, lalu merogoh kantung dasternya yang using dan berwarna muda, maksudnya memudar. Mengeluarkan sebuah kain bertali dari sana.

“Sini, buat aku semua, ya?”

Mata Ummi terbelalak, aku tersenyum senang. “Jangan semua, nduk. Itu untuk makan kita sampai nanti malam, lho. Hari ini Ummi belum nyuci, jadi belum dapat uang.”

            “Yaudah, kan belum, berarti bakal? Iya kan? Ummi berangkat kerja dong, biar bisa dapat uang.”

            “Umi lagi nggak enak badan, nduk… mungkin nanti agak siangan.”

Aku menjulingkan mata, belagak.

            “Ya kalau gitu gimana bisa dapat uang? Udah siang mana ada yang mau nitip cucian sih, Mi? haduh, lagian Ummi salah sendiri, kenapa harus jadi tukang cuci.”

Uhuk… Uhuk! Batuk Ummi terdengar semakin parau, aku berjingkat, dan memutuskan untuk masuk ke kamar.

“Raissa nanti siang berangkat ya, Mi? kalau Umi pulang kerja Raissa udah gak ada, berarti Raissa udah pergi.”

Kulihat tubuh Umi tiba-tiba bergetar hebat, seperti bergidik, hampir terlihat seperti kejang, namun hanya sebentar. Aku meringis, kenapa lagi dia? Lantas masuk ke kamar untuk tidur lagi.

***

Yihaa!

Malam tahun baru.

Aku yang sedang asyik bersenang-senang dengan teman-temanku ,tersenyum senang melihat percikan-percikan kembang api di atas langit malam berteriak kencang, beberapa ada yang meniup terompet tanda sambutan datangnya tahun baru. Aku yang baru sekali merasakan keramaian seperti ini hanya bisa ikut tertawa, memeriahkan pesta kembang api di puncak akhir tahun 2011.

Lama kelamaan percikan kembang api pun berkurang, hanya dari beberapa tempat saja yang masih berebutan menghiasi indahnya malam ini. Namun di tempatku sekarang, kembang apinya sudah habis, sepertinya.
Aku melihat jam digital yang bertengger di pergelangan tanganku, pukul 01.10. Wah, sudah dini hari ya? Pertama kalinya aku seperti ini. Haha. Aku senang sekali. Tak lama, aku merasakan seseorang merangkulku dari belakang. Aku berpikir dia salah satu temanku yang pergi bersamaku malam ini. Ternyata…

“Fauzi?” aku terperangah. Yang kusebut Fauzi tadi justru tersenyum.

“Hai, Sa. Tumben lo mau ikutan acara begini? Haha.” Ucapnya, sambil masih merangkulku. Aku bergeming.

“Emm, aku harus pulang.” Ucapku, mencoba melepaskan rangkulan Fauzi dari tubuhku yang terbuka. Ya, aku dipaksa teman-temanku memakai pakaian seperti itu. Sungguh, aku tidak pernah punya pakaian seperti ini.

“Gimana kalo lo ikut kita dulu?”
Aku menatap mereka sangsi.

“Kita minum-minum sebentar, pesta dikit lah… 2012, coy!”

Belum menjawab, aku hanya tersenyum, mengingat Umi yang pasti sudah mengkhawatirkan aku di rumah.

            “Sebentar saja, masa udah sejauh ini, lo masih takut?”

Tanpa menunggu jawabanku, mereka menyeretku masuk ke sebuah warung kecil di pinggir jalan. Tak jauh dari tempat kami melihat kembang api tadi. Aku ikut duduk. Beberapa diantara mereka menghisap rokok, dan menghembuskannya. Nikmat sekali kelihatannya, pikirku.

            “Mau coba?” tawar seorang temanku seraya membuka bungkus rokoknya. Aku menggeleng pelan. Ia menyundutkan ujung rokoknya ke rokok yang baru saja dikeluarkan.

            “Hisap deh, nikmat.” Perintahnya. Dengan enggan, namun penasaran, aku mulai menghisap. Ah, sesak.

            “Uhuk… uhuk!”

Terbatuk, aku jadi ingat Umi di rumah.
            “Pertamanya emang gitu, lama-lama juga nggak.” Ujar temanku lagi.

            “Mau coba yang lebih ekstrim?”

Aku bertanya, “Apa?”

Temanku, Daina memberikanku segelas air putih. Oh, aku pikir apa yang ekstrim.

            “Minum deh,”

Dengan percaya diri, aku meminum air putih yang tadi diberikan.

            “Hoek! Ih, apaan nih, Dai? Bau! Yeak,” protesku. “Kayak bensin.”

Daina menggeleng, gemas, lalu menyodorkan kembali gelas berisi ‘air putih berbau bensin’ itu padaku. Aku berusaha menolak, namun sepertinya tak bisa mengelak.

***

          Duniaku berputar. Entah dimana sekarang aku berada saat ini, sungguh, aku sama sekali tak bisa berpikir, semua terasa melayang-layang. Seingatku tadi aku bersama teman-temanku, dan… ah, iya. Mereka menurunkanku di pinggir jalan.
Sial. Pandanganku kabur-kaburan. Sedikit-sedikit aku melihat daerah sekitarku. Ada warung Mbok Sumi. Ini sudah dekat rumah! Hanya tinggal berjalan sedikit lagi saja, lumayan sih.

“Heaah…” desahku. Aroma napas yang kukeluarkan sangatlah tidak enak. Aku mual. Sekarang, semua yang kulihat hanyalah bayangan-bayangan kabur dan tidak jelas.

          Masih berjalan tergopoh, aku bersyukur masih dapat mengingat jelas arah kerumahku. Ah, tapi pandanganku buyar semua. Tiba-tiba, aku melihat sebuah cahaya yang kuat bersinar dan menembus retinaku. Entah itu cahaya apa, namun telingaku yang masih berfungsi baik mendengar sebuah suara klakson mobil. Dan, teriakan.

BRUK…

            Aku merasakan sakit yang luar biasa menimpa tubuhku. Bagaimana tidak? Tubuhku didorong sesuatu dengan tenaga yang sangat kuat sehingga aku terpental seperti ini. Persetan! Siapa yang mendorongku? Hah? Teriakku dalam hati, lalu membuka mataku lebar.

            Kali ini aku dapat melihat dengan jelas! Yah, sangat jelas bahkan. Seseorang wanita renta sedang tiduran di tengah jalan, didampingi sebuah truk besar disampingnya, yang sepertinya sedang berusaha untuk kembali menancap gas. Ah, sepertinya dia tidak sedang tiduran, pelipisnya mengucurkan darah yang sangat banyak, mengalir deras sekali. Aku mendekatkan wajahku dengan tubuh renta itu, pandanganku kini mulai jelas, jelas, dan…

“UMMI…!”

***
            “Ummi mengkhawatirkanmu, Nduk...”

Ucapnya parau di sela isakkanku. Aku mencoba berteriak, ingin sekali berteriak! Namun, saat itu aku benar-benar lupa cara berteriak. Aku menangis, parah.

            “Tuntun Ummi dua kalimat syahadat, Nduk…”

Napasku yang sesak berusaha membantu Ummi untuk yang terakhir kalinya,

            “Assyhadu allaa illaha’ilallahu… wa’assyhadu annaa Muhammadarrasulullah…”
***

Sehelai jiwa yang suci kini telah pergi. Tak ada lagi tawa bersama, tak ada lagi air mata cinta, tak ada lagi asa yang selalu menggetarkan jiwa, menyemangati hari-hariku dengan halus sentuhannya, keindahan lekuk bibirnya, siluet tubuhnya yang sudah renta terbalut dengan kain di sekujur tubuhnya. Sekarang aku baru menyadari, inilah yang dapat kusebut sebagai pilu.

***

            Aku tersenyum, memandangi tempat peristirahatan terakhir Ummi dengan damai. Terlihat bayangan wajahnya yang sendu di balik nisan. Aku merindukanmu, Ummi...

Jumat, 06 September 2013

Cangcimen... I miss you


Soulmate.
Tau, kan, apa itu soulmate? Soul; jiwa, mate; teman. Jadi kalau diartikan dari bahasa Inggris ke Indonesia soulmate itu artinya teman sejiwa. Kalau menurut gue sendiri, soulmate itu teman yang udah klop banget tuh sama kita, saling tahu satu sama lain, segala sisi baik dan buruk kita, dan yang terpenting mereka itu udah sama-sama nerima segala sisi baik atau buruk itu. Sepasang teman yang jiwanya udah klop gak ada yang namanya jaim-jaiman lagi kalau lagi barengan. Ngakak bareng, susah bareng. Ya… gitu, deh.

Dan sekarang gue lagi kangen banget sama teman-teman sejiwa gue itu. Teman-teman gokil semasa SMA yang setiap gue ngumpul sama mereka pasti ada aja bahan untuk diketawain. Pokoknya ngumpul sama mereka tuh bikin gue awet muda deh… 

Tapi sekarang, kurang lebih dua bulan terakhir ini nggak kumpul sama mereka. Gue kangen banget sama kalian, Cangcimen… :( di dunia gue yang baru ini, gue sama sekali belum nemuin teman seasik kalian… belum ada yang bisa diajak curhat, belum ada yang bisa diajak ketawa ngakak tanpa alasan dan perduliin gengsi… belum ada yang bisa ngajarin gue dengan sabar kalau nggak ngerti sama pelajaran di kelas… gue kangen banget seriusan. :( 

Gue kangen main monopoli di rumah Fitri...

 gue kangen main poker di kelas...

gue kangen nonton dvd bareng di proyektor terus foto-foto ...-____-

gue kangen nonton film di pojok belakang kelas...

 gue kangen omegle-an, gue kangen narsis sama kalian...




 kangen gowes....

gue kangen ngobrol sama kalian, gue kangen tidur di kelas dan denger ceritanya klara yang heboh setiap harinya, gue kangen pulang sekolah sama Fitri, karena sekarang tiap pulang kuliah sendirian terus. Ah, gue kangen semuanyaaa…. >,<

           Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Iya, gue tau persis itu. Dan sekarang gue lagi ngejalanin fase-fase perpisahan ini. Satu-persatu dari mereka udah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mereka lagi ngejar mimpi mereka di tempat yang berbeda-beda. Kita gak lagi ada di gedung yang sama, kita gak lagi menimba ilmu dari guru yang sama, kita gak lagi bisa ngobrol di depan kelas, nggak lagi bisa kasih kue ke yang lagi ulang tahun… ah… kenangannya terlalu banyak. Gue tambah kangen. Yah, tumpah deh nih air mata. (?)

Sejujurmya gue masih belum bisa menyesuaikan diri di dunia yang baru ini. Gue yang aslinya cerewet ini tiba-tiba jadi pendiem. Ya karena itu, belum dapet yang klop dan sehati. Gue… kesepian. :(




Udah deh, segini aja. Mau curhat aja abis bingung maucurhat sama siapa:/

Oh iya... satu cita-cita gue yang belom kecapai sampe sekarang: buat novel dengan karakter tokoh yang diambil dari mereka semua. Yah, namanya juga cita-cita, boleh dong. :p

Pokoknya kita harus ngumpul lagi yaaa suatu saat nanti, Yeay. \^o^/

Selasa, 03 September 2013

Mata Kuliah Olimpisme


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh …

         Baru sempat ngeblog lagi hari ini nih, ceritanya udah mulai kuliah kaaan jadinya agak sibuk gitu… hahaha. Nah, sekarang saya mau ngebahas salah satu mata kuliah yang menarik nih. Sabtu kemarin, tanggal 31 Agustus 2013, saya datang ke kampus untuk mengikuti satu mata kuliah, namanya mata kuliah Olympisme. Awalnya saya pikir mata kuliah itu semacam olahraga gitu kalau di sekolah, ternyata salah… hehehe.

          Jadi, kemarin kelas Olympisme dimulai dari perkenalan dosen kami yang bernama Bapak Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd. tapi beliau meminta kami semua agar memanggilnya Om Jay.  Saya suka mendengarkan beliau bercerita dan bagaimana cara beliau menyampaikan materinya. Sangat santai dan terkadang diselingi dengan lelucon-lelucon yang membuat suasana tidak membosankan. Di awal perkuliahan kami disuruh menyanyikan lagu.

          Materi yang bisa saya simpulkan dari kuliah kemarin adalah memotivasi kami sebagai penerus bangsa untuk memiliki rasa cinta terhadap tanah air, menyadari bahwa tanah air ini memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah ruah yang mungkin tidak dimiliki oleh Negara lain.

          Indonesia mempunyai penduduk ke 4 terbesar di dunia yakni lebih dari 250 Juta, dan soal kecerdasan telah teruji tidak kalah dibanding negara lain. Masyarakatnya pun ramah tamah dan senang tolong menolong. Indonesia juga mempunyai pertambangan (emas, tembaga, mineral, uranium) dan Gas terbesar di Dunia dengan kualitas terbaik. Selain itu, Indonesia mempunyai 3 hutan tropis terbesar di Dunia seluas 39.549.447 Hektar, dengan keaneka ragaman hayati terlengkap di Dunia, letaknya di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Indonesia pun mempunyai lautan terluas di dunia yang dikelilingi dua samudra Pasifik dan Hindia, dengan jutaan ragam spesies ikan dan keindahan taman laut yang tidak ada di negara lain. Tanahnya yang sangat subur untuk berbagai tumbuhan sudah tidak diragukan lagi. Tidak kalah dengan negara lain, Indonesia juga mempunyai potensi wisata yang kaya dengan pemandangan dan daerah wisata yang sangat eksotis dari puncak gunung, dasar laut dan kebudayaan yang beragam. Lagi-lagi tidak dimiliki negara lain.

    Membaca semua fakta-fakta tentang negeri ini seperti yang telah ditulis di atas, membuat saya sangat takjub. Ismail Marzuki menciptakan lagu tentang Indonesia yang berjudul “Rayuan Pulau Kelapa”:

Tanah airku Indonesia,
Negeri Elok Amat Ku Cinta
Tanah Tumpah Darahku Yang Mulia,
Yang Ku Puja Sepanjang Masa
Tanah Airku Aman Dan Makmur,
Pulau Kelapa Yang Amat Subur

Pulau Melati Pujaan Bangsa,
Sejak Dulu Kala
Melambai-lambai, Nyiur Di Pantai,
Berbisik-bisik, Raja Kelana
Memuja Pulau, Nan Indah Permai,
Tanah Airku Indonesia

   Kami semua menyanyikan lagu ini dengan Khidmat sampai selesai. Setelah itu materi dilanjutkan dengan penjelasan Om Jay tentang perbedaan visi dan misi negeri ini dulu dengan kenyataannya yang sekarang. Seperti contohnya rasa toleransi dansaling menghormati yang telah tertutup oleh ego masing-masing yang saat ini lebih banyak mementingkan diri sendiri, hilangnya rasa sosial dan sifat gotong royong yang merupakan karakter bangsa Indonesia. Lalu pelanggaran HAM di mana-mana, adanya pergeseran perilaku kebarat-baratan dan lain-lain. Juga komunitas perkumpulan pemuda yang kurang dibina secara baik.

         Di mata kuliah ini saya juga merasa termotivasi dengan tulisan ini, 4 kunci sukses untuk menjadi pemenang:
  1. Berani Mencoba. Memulai usaha itu memang beresiko, tetapi tidak memulai usaha akan lebih beresiko lagi
  2. Berani gagal. Hanya untuk orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total (John F. Kenedi)
  3. Berani Sukses. Seberapa besar rezeki yang kita inginkan, sama dengan seberapa besar kita berani mengambil resiko.
  4. Berani berubah. Kita memang harus punya keberanian berubah (hijrah), sebab dengan berubah kita akan lebih percaya diri dan mandiri karena kita selalu belajar.

KEMAUAN SEBAGAI KUNCI UNTUK MENJADI SEORANG PEMENANG
(Prof. Gay Hendrick & Dr. Kate Ludeman).

         Kesimpulan yang bisa saya ambil dari materi perkuliahan Olympisme kemarin adalah;  kita, sebagai generasi penerus bangsa harus mempunyai rasa cinta terhadap tanah air. Kita sebagai pemuda juga harus menyadari bahwa negeri ini tengah mengalami pergeseran perilaku,karakter asli bangsa ini mulai terkikis dengan budaya-budaya luar. Sebagai generasi penerus kami harus menanamkan jiwa pemenang, dan Olympisme mengajarkan kami bagaimana caranya agar menjadi seorang pemenang.